1
81

Rumah Adat Jawa Tengah

Halo teman-teman semua, kali ini kami dari masqoqo.com ingin berbagi artikel tentang rumah adat Jawa Tengah. Mari kita bahas sejarah, makna dan filosofi yang terkandung dalam rumah tradisional di jawa tengah.

Pengertian Rumah Adat Jawa Tengah

rumah adat jawa tengah "rumah Joglo"

pinterest.com

Pada umumnya disebut dengan nama Joglo sudah menjadi primadona di kalangan masyarakat umum. Walaupun sudah jarang dijadikan sebagai tempat tinggal, Rumah Joglo kini dijadikan sebuah konsep yang amat menarik untuk hotel atau restoran. Karena pengunjung pun bisa merasakan suasana desa di Jawa Tengah pada zaman dahulu kala.

Sebenarnya juga ada beberapa desa yang ada di Jawa tengah yang masih memakai Rumah Joglo sebagai tempat tinggal. Nah, jika Anda berkunjung di sebuah desa yang ada di Jawa Tengah, masih bisa menjumpai rumah Joglo yang masih asli. Namun jumlahnya yang sangat sedikit sekali.

Karena di beberapa tempat, rumah itu dikosongkan dan dipakai hanya untuk upacara ruwatan saja. Masyarakat pun kini lebih memilih membangun rumah dengan konsep yang modern.

Sejarah Rumah Adat Jawa Tengah “Rumah Joglo”

rumah adat jawa tengah "rumah Joglo"

kompasiana.com

Sebenarnya siih, nama rumah Tradisional Jawa Tengah tidak hanya Rumah Joglo. Ada empat bentuk tempat tinggal tradisional yang ada di daerah Jawa Tengah yaitu bentuk Panggangpe, bentuk Limasan, bentuk Kampung, dan bentuk Joglo. Nah, bentuk Joglo ini memang lebih dikenal dibandingkan dengan bentuk lainnya.

Rumah Joglo, dahulu, merupakan simbol status sosial dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang mampu. Karena bahan-bahan untuk membuat Joglo memang lebih mahal dan lebih banyak. Selain itu juga membutuhkan biaya, waktu yang diperlukan juga cukup banyak.

Akhirnya juga, anggapan rumah Joglo hanya boleh digunkan bangsawan, raja, dan pangeran pun berkembang. Sehingga masyarakat dengan penghasilan rendah tidak berani membuatnya. Masyarakat dengan penghasilan tidak banyak biasanya akan membuat rumah Panggangpe, Limasan, atau Kampung yang lebih hemat biaya dan waktu.

Nah, kalau sekarang ini, rumah Joglo dapat dimiliki oleh berbagai kalangan. Bahan-bahan yang lebih variatif dengan harga terjangkau sudah banyak dipasarkan. Karena hal ini membuat pembuatannya menjadi lebih murah dibandingkan jaman dahulu kala.

Filosofi Rumah Adat Jawa tengah “Rumah Joglo”

rumah adat jawa tengah "rumah Joglo"

arcadiadesain.com

Pemberian nama Joglo pada rumah tradisional di Jawa Tengah ini syarat dengan berbagai macam makna. Nah, kata Joglo diambil dari kata “tajug” dan “loro”. Karena makna dari kata itu adalah penggabungan dua tajug. Atap rumah Joglo memang berbentuk tajug yang menyerupai gunung.

Nah, masyarakat Jawa pada umumnya sangat percaya bahwa gunung merupakan sebuah simbol yang sakral. Menurut mereka juga, gunung itu tempat tinggal para dewe. Karena hal lah, dua tajug dipilih sebagai bentuk atap rumah tradisional Jawa Tengah.

Atap rumah Joglo juga disangga dengan empat pilar utama yang disebut Saka guru. Karena pilar-pilar itu adalah representasi dari arah mata angin yaitu timur, selatan, utara, dan barat. Nah, rumah Joglo terdiri atas tiga bagian yaitu :

  1. Bagian depan (pendapa).
  2. Tengah (pringgitan).
  3. Ruang utama (dalem).

Nah, dalam pembagian rumah Joglo ini, ada prinsip hirarki yang amat unik. Bagian depan bersifat umum dan bagian belakang bersifat khusus. Karena akses yang bisa masuk ke dalam ruangan akan berbeda-beda.

Bentuk Rumah Adat Joglo

rumah adat jawa tengah "rumah Joglo"

moondoggiesmusic.com

Pada awal mulanya, rumah Joglo ini berbentuk bujur sangkar dengan empat pokok tiang di tengahnya. Tiangnya ini disebut dengan istilah “saka guru”. Penopong tiang itu merupakan blandar bersusun yang dikenal dengan nama “tumpang sari”. Seiring dengan perkembangan zaman, terdapat tambahan-tambahan dalam rumah joglo. Akan tetapi, yang paling mendasar adalah rumah yang tetap berbentuk persegi.

Nah, bahan utama pembuatan rumah Joglo yaitu kayu. Jenisnya juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, umumnya, kayu yang digunakan adalah sengon, jati, serta batang pohon kelapa. Karena salah satu jenis kayu yang selalu primadona pembuatan rumah tradisional di Jawa Tengah Joglo ini yaitu kayu jati.

Hal ini sangat dikarenakan ketahanan, keawetan, serta kekuatan kayu lebih tinggi ketimbang jenis kayu lainnya. Bahkan, meski hanya menggunakan kayu jati, rumah Joglo sejak zaman dahulu masih dapat bertahan hingga saat ini. Karena pada bagian atap rumah tradisional di Jawa tengah yang satu ini terbuat dari bahan genteng tanah liat.

Selain genteng, masyarakat tradisional Jawa juga menggunakan jerami, alang-alang, dan ijuk dalam pembuatan atapnya. Alasan penggunaan bahan-bahan alami buat bagian atap rumah adalah demi kenyamanan dan rasa sejuk dalam ruangan yang ditempati.

Nah, karena rumah Joglo ini juga memiliki kelebihan pada sirkulasi udara sangat banyak. Hal ini disebabkan bentuk atap yang bertingkat-tingkat. Ketinggian atap rumah Joglo juga mempunyai hubungan dengan pergerakan udara yang dibutuhkan oleh penghuninya.

Ciri khas lain dari rumah tradisional ini yaitu bentuk atap yang merupakan perpaduan antara dua bidang yaitu atas segitiga dan trapesium. Kedua jenis atap ini mempunyai sudut kemiringan berbeda. Atap joglo ini terletak pada tengah rumah dan diapit oleh serambi. Sedangkan Lambang Gantung adalah gabungan atap yang menyisakan lubang udara di bagian atap itu.

Nah, desain rumah Joglo sendiri terdapat aturan khusus. Sehingga muncullah jenis rumah Joglo seperti Tinandhu, Hageng, Sinom, Mangkurat, Jompongan, Limasan Lawakan dan Pangrawit.

Bagian-Bagian Rumah Joglo:

rumah adat jawa tengah "rumah Joglo"

insinyurbangunan.com

Simak ya teman-teman berikut ulasannya dibawah ini tentang bagian-bagian rumah Joglo :

  • Pendapa

Pendapa terlatak di bagian depan rumah. Hal ini menunjukkan sifat orang Jawa yang ramah dan terbuka. Agar tamu dapat duduk, karena biasanya pendapa dilengkapi dengan tikar. Penggunaan tikar ini dimaksudkan agar tidak ada kesenjangan antara pemiliki rumah dan tamu.

  • Pringgitan

Nah, bagian ini merupakan tempat di mana pagelaran pertunjukkan wayang diadakan. Karena umumnya juga dipakai saat upacara ruwatan. Disini, pemilik rumah juga menyimbolkan diri sebagai Dewi Sri. Siapa siih Dewi Sri? Dewi Sri merupakan dewi yang dianggap sebagai sumber dari segala kehidupan, kebahagiaan, dan juga kesuburan.

  • Dalem (Ruang Utama)

Pada bagian ini, tentunya terdapat kamar-kamar yang disebut dengan “senthong”. Dahulu kala, senthong hanya dibuat sebanyak tiga bilik saja. Kamar pertama dibuat bagi keluarga laki-laki, kamar kedua dikosongkan, sedangkan kamar ketiga bagi keluarga perempuan.

Nah, alasan mengapa kamar kedua dikosongkan yaitu karena biar bisa digunakan untuk menimpang pusakka untuk pemujaan pada Dewi Sri. Kamar ini juga disebut dengan “krobongan” dan dianggap sebagai bagian rumah yang paling suci. Meski kamar dikosongkan, tapi tetap diisi dengan berbagai perlengkapan tidur.

Krobongan ini bisa digunakan untuk pengantin baru. Masyarakat yang baru saja menikah tidak akan bercampur dengan saudara lainnya. Nah, masyarakat Jawa akan sangat mempertimbangkan baik buruk dalam melakukan berbagai tindakan, termasuk juga dalam membangun rumah.

Rumah Jawa sarat akan makna filosofi yang tinggi, sehingga sekecil apapun bagiannya akan mengandung nilai moral dan mencerminkan kepribadian masyarakat yang ada di Jawa.

Penutupan

Demikian semoga artikel saya ini bermanfaat bagi anda semua. Yang telah membaca artikel masqoqo.com, apabila ada kesalahan kata-kata tolong di maafkan. Sebelumnya, silahkan Anda berkunjung di website guratgarut, dan temui banyak informasi unik disana. Silahkan klik disini.
Jangan lupa di share ke teman-teman. Supaya bertambah wawasannya dan jangan lupa juga di coment agar saya bisa intro peksi diri.
Cukup sekian dan Terima kasih telah berkunjung di web masqoqo.com jangan lupa suport ya agar terus maju berkembang.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply